Indonesia adalah salah satu negeri paling kaya bahasa di dunia. Angka yang biasa disebut berkisar di atas tujuh ratus bahasa daerah — kekayaan yang, dalam peta linguistik dunia, hanya kalah dari Papua Nugini.
Angka itu sering dikutip dengan nada bangga. Yang lebih jarang dikutip adalah angka pendampingnya: sebagian besar dari bahasa-bahasa itu kini punya penutur yang terus menyusut, dan sejumlah di antaranya tinggal menyisakan segelintir orang tua yang masih memakainya sehari-hari.
Sebuah bahasa jarang mati dengan pengumuman. Ia pamit diam-diam, satu percakapan yang tidak jadi terjadi pada satu waktu.
Bagaimana sebuah bahasa berhenti
Kematian bahasa hampir tidak pernah berupa peristiwa. Ia proses, dan polanya cukup seragam di banyak tempat.
Mulanya bahasa daerah menyusut wilayah pakainya. Ia masih dipakai di rumah, tetapi tidak lagi di sekolah, tidak di kantor, tidak di ruang mana pun yang berhubungan dengan kemajuan. Lalu ia menyusut lagi: dipakai antara orang tua dan kakek-nenek, tetapi tidak lagi kepada anak.
Tahap ini yang menentukan. Selama masih ada anak yang menerimanya sebagai bahasa pertama, sebuah bahasa punya masa depan. Begitu satu generasi dilewati, yang tersisa hanyalah hitungan usia penuturnya.
Tahap terakhir biasanya paling panjang dan paling sunyi. Bahasa itu masih dikenali, masih dipakai untuk menyapa, masih muncul dalam beberapa kata yang diselipkan ke bahasa lain. Orang masih bisa berkata mereka "bisa sedikit". Tetapi tidak ada lagi percakapan utuh yang berlangsung di dalamnya, dan sebuah bahasa yang tidak lagi dipakai untuk berdebat, bercanda, atau menenangkan anak sudah kehilangan sebagian besar fungsinya jauh sebelum penutur terakhirnya meninggal.
Yang menyedihkan, langkah itu jarang diambil karena kebencian pada bahasa sendiri. Justru sebaliknya — biasanya diambil karena kasih sayang. Orang tua memilih tidak mewariskan bahasa daerah karena percaya itu akan meringankan hidup anaknya: agar tidak diejek, agar tidak tertinggal, agar tidak terdengar kampungan. Keputusan itu masuk akal dari dalam, dan justru itulah yang membuatnya sulit dilawan.
Bahasa tidak dibunuh oleh orang yang membencinya. Ia paling sering dilepaskan oleh orang yang menyayangi anak-anaknya.
Apa yang ikut hilang
Mudah menganggap kehilangan bahasa sebagai kehilangan estetis belaka — sayang, tetapi tidak fatal. Toh maksudnya masih bisa disampaikan dalam bahasa lain.
Persoalannya, sebuah bahasa bukan sekadar kumpulan padanan kata. Ia cara sebuah masyarakat memotong dunia menjadi bagian-bagian yang dianggap perlu dibedakan.
Bahasa-bahasa di Nusantara menyimpan perbedaan yang tidak punya padanan ringkas dalam bahasa nasional maupun bahasa asing: istilah kekerabatan yang membedakan saudara ibu dari saudara ayah, kosakata padi yang membedakan setiap tahap pertumbuhannya, ratusan nama tumbuhan yang hanya dikenal oleh orang yang hidup berdampingan dengannya.
Beberapa bahasa di kepulauan ini bahkan tidak memakai kiri dan kanan untuk menunjukkan arah, melainkan sumbu tetap seperti ke arah gunung dan ke arah laut. Penuturnya, karena bahasanya menuntut demikian, terbiasa mengetahui orientasi dirinya setiap saat. Ketika bahasa itu berganti, kebiasaan berpikir itu ikut berganti.
Ketika bahasa berhenti dipakai, yang hilang bukan kata-katanya saja, melainkan pengetahuan yang hanya tersimpan di dalamnya. Nama sebuah tumbuhan obat sering merupakan satu-satunya arsip yang pernah ada tentang kegunaannya. Tidak ada yang menuliskannya, karena tidak pernah perlu dituliskan selama masih ada yang mengucapkannya.
Ada pula yang lebih sulit dijelaskan: cara sebuah bahasa mengatur kesopanan, kedekatan, dan jarak. Tingkat tutur dalam bahasa Jawa, Sunda, Bali, dan banyak bahasa lain bukan ornamen. Ia peta hubungan sosial yang harus dinavigasi setiap kali seseorang membuka mulut. Kehilangan bahasa itu berarti kehilangan sebagian cara masyarakat itu memahami hubungan antarmanusianya sendiri.
Aksara yang lebih dulu pergi
Sebelum sebuah bahasa hilang, sering aksaranya lebih dulu berhenti dipakai.
Nusantara pernah punya banyak sistem tulisan sendiri — aksara Jawa, Bali, Lontara, Rejang, Batak, Sunda Kuno, dan lainnya. Sebagian besar kini hanya bertahan sebagai hiasan: nama jalan, papan kantor, pelajaran singkat di sekolah yang berhenti setelah ujian.
Konsekuensinya tidak sepele. Naskah-naskah lama yang ditulis dengan aksara itu — silsilah, hukum adat, pengobatan, sastra — menjadi tidak terbaca oleh keturunan orang yang menulisnya. Bukan hilang secara fisik, tetapi terkunci. Dan jumlah orang yang memegang kuncinya terus berkurang.
Bukan lawan bahasa Indonesia
Perlu ditegaskan karena sering disalahpahami: melestarikan bahasa daerah bukan lawan dari memperkuat bahasa Indonesia.
Bahasa Indonesia adalah salah satu keputusan kebangsaan paling berhasil di dunia — bahasa persatuan yang diterima justru karena bukan bahasa kelompok mayoritas mana pun. Ia bekerja, dan ia perlu terus bekerja.
Persoalannya tidak pernah bahasa Indonesia versus bahasa daerah. Persoalannya adalah anggapan bahwa seseorang hanya bisa memiliki satu. Padahal kemampuan berbahasa lebih dari satu adalah keadaan normal bagi sebagian besar manusia di dunia sepanjang sejarah, dan sejumlah penelitian justru menunjukkan anak dwibahasa tidak dirugikan secara akademis — dalam beberapa hal, sebaliknya.
Yang membuat bahasa daerah menyusut bukan kehadiran bahasa Indonesia, melainkan hilangnya ruang tempat bahasa daerah masih masuk akal dipakai.
Bahwa ini bisa dibalik
Yang sering membuat orang menyerah lebih dulu adalah anggapan bahwa proses ini satu arah. Pengalaman di tempat lain menunjukkan sebaliknya.
Bahasa Wales sempat menyusut tajam sebelum kebijakan pendidikan, penyiaran, dan penggunaan resmi selama beberapa dekade membalikkan arahnya; jumlah penutur mudanya kini naik. Bahasa Māori di Selandia Baru dan bahasa Hawaii dihidupkan kembali sebagian besar lewat prakarsa "sarang bahasa" — ruang belajar usia dini tempat anak-anak menghabiskan hari sepenuhnya dalam bahasa itu, diasuh oleh penutur lanjut usia.
Pelajarannya konsisten dan tidak nyaman: pembalikan itu mungkin, tetapi mahal, lambat, dan menuntut komitmen lintas generasi. Jauh lebih murah menjaga bahasa yang masih hidup daripada menghidupkan yang sudah berhenti.
Ruang, bukan sekadar pelajaran
Karena itu, upaya pelestarian yang hanya berbentuk mata pelajaran cenderung berumur pendek. Bahasa yang hanya hidup di jam pelajaran akan diperlakukan seperti isi jam pelajaran: dihafal, diujikan, dilupakan.
Yang menghidupkan bahasa adalah adanya keperluan memakainya di luar kelas.
- Ruang publik yang memakainya. Papan nama, pengumuman, siaran radio lokal, unggahan pemerintah daerah. Bahasa yang terlihat di ruang umum terbaca sebagai bahasa yang wajar, bukan bahasa yang memalukan.
- Isi yang layak dinikmati, bukan sekadar layak dilestarikan. Lagu, komik, kanal video, permainan, cerita anak. Anak-anak tidak belajar bahasa demi melestarikannya; mereka belajar bahasa yang dipakai oleh hal-hal yang mereka sukai.
- Kamus dan dokumentasi yang dikerjakan sekarang, selagi penutur lanjut usia masih ada. Ini pekerjaan tanpa tenggat resmi tetapi dengan tenggat yang sangat nyata.
- Sikap keluarga. Pada akhirnya, keputusan paling menentukan diambil di ruang makan, bukan di rapat kebijakan.
Kota, perantauan, dan generasi yang di tengah
Perpindahan ke kota mempercepat semuanya. Di kampung, bahasa daerah punya seluruh desa sebagai ruang pakainya. Di kota, ia menyusut menjadi satu rumah — dan kalau kedua orang tua berasal dari daerah yang berbeda, bahasa yang tersisa di rumah itu hampir selalu bahasa Indonesia.
Generasi yang paling merasakan ini adalah yang berada di tengah: cukup paham untuk mengerti ketika orang tuanya berbicara, tetapi tidak cukup lancar untuk menjawab dalam bahasa yang sama. Mereka sering merasa bersalah tanpa merasa berhak memperbaikinya.
Padahal justru merekalah yang paling menentukan. Bahasa yang dimengerti tetapi tidak dipakai masih bisa dipulihkan; bahasa yang tidak lagi dimengerti jauh lebih sulit.
Yang bisa dilakukan sekarang
Ada satu tindakan yang tersedia bagi hampir siapa pun, dan biayanya nyaris nol: bicaralah dengan orang tertua di keluarga Anda dalam bahasa mereka, dan rekam.
Bukan wawancara resmi. Cukup percakapan tentang masa kecil, tentang nama-nama tempat yang sudah berganti, tentang makanan yang tidak lagi dibuat, tentang bagaimana dulu orang menyebut sesuatu yang sekarang punya nama lain.
Rekaman semacam itu jarang terasa penting saat dibuat. Ia menjadi penting belakangan, ketika ia satu-satunya yang tersisa.
Sebuah bahasa yang hilang tidak bisa dipulihkan dengan menyesalinya. Tetapi sebuah bahasa yang masih ada, betapapun sedikit penuturnya, masih bisa diberi alasan untuk terus diucapkan — dan alasan itu hampir selalu dimulai dari orang yang memutuskan untuk tidak berhenti memakainya.