Setiap hari saling berkabar. Dari selamat pagi hingga selamat tidur. Menghabiskan waktu bersama. Bahkan saling cemburu ketika ada salah satu dekat dengan orang lain. Namun, ketika muncul satu pertanyaan, ‘sebenarnya kita ini apa?’ Jawaban ambigu dan selalu sama: ‘jalani saja dulu.’ Bagi sebagian orang, ilustrasi tersebut mungkin terasa akrab, terutama di kalangan anak muda. Fenomena tersebut kini dikenal sebagai situationship atau dalam istilah yang lebih akrab di Indonesia, Hubungan Tanpa Status (HTS).
Hubungan tanpa status (HTS) merupakan bentuk hubungan romantis yang ditandai oleh adanya kedekatan emosional dan interaksi layaknya pasangan, tetapi tidak disertai dengan komitmen maupun kejelasan mengenai status hubungan. Kondisi ini sering menimbulkan ambiguitas terkait ekspektasi, batasan, dan arah hubungan karena masing-masing individu dapat memiliki pemaknaan yang berbeda terhadap hubungan yang dijalani.
Lantas, mengapa masih banyak orang yang mempertahankan hubungan abu-abu ini? Salah satu alasannya karena hubungan tersebut telah memberikan rasa nyaman dan menjadi bagian dari rutinitas sehari-hari. Dari rasa nyaman lalu terbentuklah ikatan emosional yang kita sebut dengan istilah attachment. Dalam Attachment Theory, John Bowlby menjelaskan bahwa manusia memiliki kecenderungan untuk membangun dan mempertahankan kedekatan emosional dengan figur yang dianggap memberi rasa aman. Akibatnya, seseorang dapat tetap bertahan dalam hubungan yang ambigu karena ikatan emosional tersebut lebih dominan daripada ketidakpastian yang dirasakan. Di sisi lain, tidak sedikit individu yang memilih bertahan karena takut kehilangan sosok yang telah menjadi tempat berbagi cerita. Meskipun hubungan ini tidak memiliki kepastian, mengakhirinya sering kali terasa lebih sulit dibanding tetap bertahan dalam ketidakjelasan.
Fenomena ini dapat dijelaskan melalui konsep Loss aversion yang diperkenalkan oleh Daniel Kahneman dan Amos Tversky. Konsep ini menjelaskan bahwa manusia cenderung merasakan dampak psikologis dari kehilangan lebih kuat daripada kesenangan yang diperoleh dari sesuatu yang bernilai setara. Ada pula yang tetap berharap bahwa seiring berjalannya waktu, hubungan itu akan berkembang menjadi komitmen lebih jelas. Namun, harapan tersebut sering kali diiringi dengan keraguan untuk membahas status hubungan secara terbuka karena khawatir percakapan tersebut justru merusak kedekatan yang telah terjalin. Akibatnya, banyak orang memilih mempertahankan hubungan yang ambigu daripada menghadapi kemungkinan kehilangan.
Namun, apa yang sebenarnya terjadi pada kondisi psikologis seseorang bila hubungan yang tidak memiliki kepastian ini berlangsung dalam waktu yang lama? Ketidakjelasan dalam HTS tidak hanya menimbulkan pertanyaan mengenai arah hubungan, tetapi juga memicu serangkaian respons psikologis yang saling berkaitan. Ketika seseorang tidak memperoleh kepastian mengenai status maupun komitmen, secara alami ia akan berusaha mencari jawaban atas ketidakpastian tersebut. Dalam perspektif komunikasi interpersonal, kecenderungan ini dijelaskan melalui Uncertainty Reduction Theory yang menyatakan bahwa manusia terdorong untuk mengurangi ketidakpastian dalam hubungan. Namun, ketika jawaban yang dicari tidak pernah benar-benar diperoleh, proses pencarian makna itu justru berkembang menjadi overthinking.
Overthinking yang berlangsung terus-menerus dapat berkembang menjadi rumination, yaitu kecenderungan memikirkan masalah yang sama secara berulang tanpa menemukan penyelesaian. Individu mulai mempertanyakan setiap perubahan sikap pasangan, mengulang percakapan yang pernah terjadi, hingga membayangkan berbagai kemungkinan yang belum tentu sesuai dengan kenyataan. Ketika pola pikir seperti ini berlangsung dalam waktu yang lama, energi emosional perlahan mulai terkuras. Individu menjadi lebih mudah lelah secara mental karena terus berusaha memahami hubungan yang tidak pernah memiliki kepastian. Kondisi inilah yang dikenal sebagai emotional exhaustion. Dalam jangka panjang, kelelahan emosional tersebut dapat memengaruhi cara seseorang memandang dirinya sendiri. Ketika hubungan tidak kunjung memiliki kejelasan, sebagian individu mulai mempertanyakan nilai dirinya. Sebagian menganggap bahwa dirinya tidak cukup layak untuk diperjuangkan. Akibatnya, self-esteem dapat mengalami penurunan.
Dengan demikian, dampak psikologis dalam HTS sering kali tidak muncul secara tiba-tiba, melainkan berkembang secara bertahap. Ketidakjelasan hubungan menjadi pemicu awal yang mendorong individu mencari kepastian, memunculkan overthinking, berkembang menjadi rumination, menguras energi emosional, hingga pada akhirnya memengaruhi cara seseorang memandang dirinya sendiri.
Pada akhirnya, hubungan tanpa status tidak selalu berarti sebuah hubungan yang buruk. Bagi sebagian orang, kedekatan tanpa komitmen formal mungkin memang menjadi pilihan yang disadari dan disepakati bersama. Persoalan muncul ketika dua individu menjalani kedekatan yang sama dengan ekspektasi yang berbeda, sementara tidak ada komunikasi yang cukup terbuka untuk membicarakan apa yang sebenarnya mereka inginkan dari hubungan tersebut. Ketika perhatian dianggap sebagai komitmen oleh satu pihak, tetapi hanya dianggap sebagai bentuk kenyamanan oleh pihak lainnya, hubungan yang sama dapat dimaknai dengan cara yang sangat berbeda.
Karena itu, persoalan utama dalam HTS mungkin bukan terletak pada ada atau tidaknya sebuah status, melainkan pada seberapa jelas kedua individu memahami posisi mereka di dalam hubungan tersebut. Sebab, ketidakjelasan yang dibiarkan terlalu lama bukan hanya dapat membuat seseorang bertanya, “Kita ini sebenarnya apa?”, tetapi juga dapat membuatnya terus mencari jawaban melalui asumsi, harapan, dan interpretasi terhadap perilaku orang lain. Pada akhirnya, kejelasan bukan selalu berarti harus segera memberi label pada sebuah hubungan, tetapi setidaknya memberikan ruang bagi dua individu untuk mengetahui apakah mereka sedang menginginkan hal yang sama.