Setiap kali Anda melangkah ke rak buku bagian pengembangan diri di sebuah toko buku, Anda akan disambut oleh deretan wajah yang familier. Anda melihat biografi para pendiri perusahaan teknologi raksasa, kisah miliarder yang memulai bisnisnya dari garasi sempit, hingga rahasia tokoh dunia yang memilih putus kuliah demi mengejar mimpi. Pesan yang tersirat dari ratusan halaman tersebut selalu seragam: ambil risiko besar, miliki visi yang tidak masuk akal, bangun pagi setiap hari, dan jangan pernah menyerah. Saat membacanya, kita merasa terinspirasi dan mulai berpikir bahwa jika kita meniru langkah-langkah tersebut, kita akan sampai di puncak kesuksesan yang sama.
Namun, sadarkah Anda bahwa rak buku tersebut diam-diam menutupi sebuah realitas yang jauh lebih besar? Tentu, penulis dan penerbit tidak berniat membohongi Anda. Masalahnya terletak pada apa yang tidak mereka tulis dan siapa yang tidak mereka wawancarai. Untuk setiap satu orang miliarder yang berani putus kuliah dan berhasil membangun kerajaan bisnis, ada puluhan ribu mahasiswa putus kuliah lainnya yang kini terjebak dalam masalah finansial yang pelik. Sayangnya, orang-orang ini tidak pernah diundang ke panggung seminar motivasi, dan nama mereka tidak pernah menghiasi sampul majalah bisnis.
Kecenderungan kita untuk hanya melihat mereka yang berhasil bertahan hidup dan mengabaikan mereka yang gugur di tengah jalan inilah yang disebut oleh para ilmuwan sebagai survivorship bias atau bias kebertahanan. Ini bukanlah sekadar kesalahan logika biasa, melainkan sebuah "kecacatan" fundamental pada cara otak manusia memproses informasi. Ketika kita membiarkan fenomena ini membimbing keputusan kita, kita sedang berjalan di atas jembatan rapuh dengan mata tertutup.
Lubang peluru yang tidak terlihat Kisah paling memukau mengenai fenomena ini tidak datang dari dunia bisnis modern, melainkan dari hanggar militer yang tegang pada masa Perang Dunia II. Pada saat itu, pihak militer Amerika Serikat menghadapi masalah pelik: banyak pesawat pengebom mereka yang ditembak jatuh oleh musuh. Untuk meminimalkan kerugian, para jenderal memutuskan untuk menambahkan pelat baja ekstra pada pesawat. Namun, karena pelat baja itu berat, mereka hanya bisa memasangnya di bagian tertentu agar pesawat tetap bisa terbang.
Mereka mulai mengumpulkan data dengan memeriksa pesawat-pesawat yang berhasil kembali ke pangkalan setelah bertempur. Militer mengamati bahwa sebagian besar lubang peluru terkonsentrasi pada bagian sayap, ekor, dan badan utama pesawat. Secara intuitif, para jenderal menyimpulkan bahwa bagian-bagian yang paling banyak terkena tembakan inilah yang harus diperkuat. Kesimpulan ini terdengar sangat masuk akal, sampai seorang ahli statistik bernama Abraham Wald menyela diskusi tersebut.
Wald menunjukkan sebuah pembalikan sudut pandang yang brilian. Ia menyatakan bahwa militer justru harus menambahkan pelat baja di tempat di mana tidak ada lubang peluru sama sekali, yaitu di bagian mesin. Mengapa? Karena pesawat-pesawat yang sedang diamati militer adalah pesawat yang berhasil pulang. Lubang peluru di sayap dan ekor membuktikan bahwa pesawat masih bisa terbang meskipun tertembak di area tersebut. Pesawat yang tertembak tepat di bagian mesin tidak pernah kembali ke pangkalan, sehingga kerusakannya tidak pernah terekam dalam data. Jika militer mengikuti insting awal mereka, mereka hanya akan memperkuat bagian yang sudah kuat dan membiarkan titik paling fatal tetap tak terlindungi.
Kebohongan dari deretan buku terlaris Prinsip lubang peluru pesawat militer ini tanpa kita sadari menyusup masuk ke dalam rutinitas dan pengambilan keputusan kita sehari-hari. Berapa kali kita membaca artikel tentang kebiasaan pagi para CEO dunia yang selalu bangun pada pukul lima pagi, mandi dengan air dingin, dan bermeditasi? Otak kita dengan cepat merajut benang ilusi: bangun pukul lima pagi adalah kunci menjadi CEO sukses.
Dalam dunia penelitian manajemen, fenomena ini diteliti secara mendalam. Jerker Denrell, seorang akademisi, mengungkapkan bahwa studi tentang kesuksesan organisasi sering kali mengambil sampel data yang cacat karena mereka hanya meneliti perusahaan yang masih beroperasi. Padahal, jika kita meriset ribuan pengusaha yang perusahaannya gulung tikar, kita sangat mungkin menemukan bahwa mereka juga bangun pada pukul lima pagi, bekerja keras, dan bermeditasi.
Masalahnya, kita merancukan antara korelasi dengan kausalitas. Kita melihat pola dari "pesawat yang berhasil pulang" dan menganggap pola tersebut sebagai resep mutlak keberhasilan. Kita melupakan fakta bahwa dedikasi tinggi, kerja keras, dan visi yang berani juga dimiliki oleh mereka yang perusahaannya hancur dihantam krisis atau kalah oleh kompetisi berdarah. Kegagalan bersifat senyap karena tidak ada insentif ekonomi bagi media atau penerbit buku untuk menceritakan kisah bisnis yang bangkrut biasa-biasa saja.
Harga mahal yang jarang disadari Bias kebertahanan ini tidak hanya memutarbalikkan logika, tetapi juga dapat menguras aset finansial kita secara nyata. Fenomena ini sangat mematikan di dunia investasi dan pasar modal. Sering kali, perusahaan pialang atau reksa dana akan memamerkan portofolio dana kelolaan mereka yang menunjukkan grafik pertumbuhan positif selama sepuluh tahun berturut-turut. Angka-angka itu terlihat menjanjikan dan membuat banyak investor amatir menyetorkan tabungan masa tuanya.
Namun, riset menunjukkan bahwa laporan kinerja tersebut sering kali telah terdistorsi. Reksa dana atau produk investasi yang kinerjanya buruk dan merugi biasanya akan ditutup atau dilebur dengan reksa dana lain oleh perusahaan pengelola. Akibatnya, ketika Anda melihat laporan kinerja jangka panjang di brosur mereka, Anda hanya melihat kinerja dari dana-dana yang "bertahan hidup". Rata-rata keuntungan tampak jauh lebih tinggi daripada realitas pasar yang sebenarnya.
Secara psikologis, Daniel Kahneman menyebut kecenderungan kognitif semacam ini dengan istilah What You See Is All There Is (WYSIATI). Otak manusia sangat payah dalam memperhitungkan informasi yang tidak terlihat di depan mata. Kita melihat pemenang lotre di televisi dan mengabaikan jutaan tiket lotre yang berakhir di tempat sampah. Kita melihat satu atau dua pemengaruh digital yang menjadi kaya raya di usia muda, lalu merasa tertinggal dan gagal, tanpa memikirkan puluhan juta akun lain yang memproduksi konten serupa setiap hari dan tidak pernah mendapatkan panggung.
Belajar dari bayangan yang hilang Melepaskan diri dari ilusi kesuksesan ini bukanlah sesuatu yang mudah, tetapi sangat mungkin untuk dilatih. Langkah pertama yang paling krusial adalah membalikkan pertanyaan Anda setiap kali dihadapkan pada sebuah kisah sukses yang bombastis. Alih-alih bertanya, "Apa yang dilakukan oleh orang ini sehingga ia berhasil?", mulailah membiasakan diri bertanya, "Apakah orang-orang yang gagal juga melakukan hal yang sama persis?"
Kedua, mulailah melihat dunia melalui kacamata probabilitas dasar atau base rate. Jika statistik menunjukkan bahwa 90% restoran baru akan tutup pada tahun pertama operasionalnya, maka modal utama untuk membuka restoran bukanlah sekadar resep makanan yang enak dan hasrat yang menggebu-gebu. Modal utamanya adalah pemahaman yang menyeluruh tentang mengapa 90% restoran tersebut harus gulung tikar, agar Anda tidak mengulangi kesalahan fatal yang sama.
Kisah orang sukses memang penting untuk memicu motivasi, menyalakan harapan, dan memberi kita visi tentang apa yang mungkin dicapai oleh manusia. Namun, menjadikannya sebagai satu-satunya panduan hidup sama halnya dengan menavigasi lautan badai hanya berbekal cerita para pelaut yang selamat. Untuk benar-benar bisa menaklukkan lautan, kita juga harus mau menyelam dan mempelajari bangkai kapal yang karam di dasar samudra.
REFERENSI Brown, Stephen J., William Goetzmann, Roger G. Ibbotson, and Stephen A. Ross. "Survivorship bias in performance studies." The Review of Financial Studies 5, no. 4 (1992): 553-580.
Denrell, Jerker. "Vicarious learning, undersampling of failure, and the myths of management." Organization Science 14, no. 3 (2003): 227-243.
Kahneman, Daniel, and Patrick Egan. Thinking, fast and slow. Vol. 1, no. 0. New York: Farrar, straus and Giroux, 2011.
Mangel, Marc, and Francisco J. Samaniego. "Abraham Wald's work on aircraft survivability." Journal of the American Statistical Association 79, no. 386 (1984): 259-267.
Chance, Its All. "Fooled by Randomness: The Hidden Role of Chance in Life and in the Markets by Nassim Nicholas Taleb."