Trotoar yang Hilang: Bagaimana Kota Kita Diam-Diam Mengusir Pejalan Kaki
Coba perhatikan trotoar di sekitar tempat tinggal Anda — bukan yang di pusat kota yang biasanya sudah direnovasi untuk citra, tapi yang di jalan-jalan biasa tempat orang benar-benar tinggal dan…
27 Jul 2026 · 3 mnt baca
Foto oleh Deval Parikh di Unsplash
Coba perhatikan trotoar di sekitar tempat tinggal Anda — bukan yang di pusat kota yang biasanya sudah direnovasi untuk citra, tapi yang di jalan-jalan biasa tempat orang benar-benar tinggal dan beraktivitas sehari-hari. Ada kemungkinan besar Anda akan menemukan pola yang sama di banyak kota: trotoar yang tiba-tiba terputus, dijadikan tempat parkir motor, atau berubah menjadi perluasan warung tanpa ada yang benar-benar mempertanyakannya.
Ini bukan kebetulan atau sekadar kelalaian kecil yang terjadi di sana-sini. Ia mencerminkan sesuatu yang lebih mendasar tentang bagaimana banyak kota kita dirancang — atau lebih tepatnya, tidak dirancang — dengan pejalan kaki sebagai prioritas.
Kota yang dibangun untuk kendaraan, bukan untuk orang
Sebagian besar perencanaan kota selama beberapa dekade terakhir berpusat pada satu pertanyaan implisit: bagaimana memperlancar arus kendaraan. Jalan diperlebar, lampu lalu lintas diatur untuk kecepatan mobil, dan ketika ruang terbatas, yang biasanya dikorbankan lebih dulu adalah ruang untuk pejalan kaki — karena pejalan kaki, secara politis dan ekonomis, jarang punya suara sekuat pemilik kendaraan.
Hasilnya adalah lingkungan yang secara diam-diam memberi pesan: kalau Anda bukan pengendara, Anda bukan prioritas di sini. Trotoar yang sempit, terputus, atau tidak ada sama sekali bukan cuma masalah kenyamanan — ia adalah masalah keadilan, karena tidak semua orang mampu atau ingin memiliki kendaraan pribadi, dan ketidakhadiran trotoar yang layak secara efektif membatasi mobilitas mereka.
Trotoar yang baik bukan fasilitas tambahan yang bagus untuk dimiliki. Ia adalah pernyataan tentang siapa yang dianggap berhak bergerak bebas di kota itu.
Biaya tersembunyi dari kota yang tidak ramah jalan kaki
Dampak dari kota yang tidak dirancang untuk pejalan kaki jauh melampaui ketidaknyamanan sesaat. Ketika berjalan kaki terasa tidak aman atau tidak nyaman, orang beralih ke kendaraan bermotor bahkan untuk jarak yang sebenarnya sangat dekat — yang pada gilirannya menambah kemacetan, polusi udara, dan mengurangi aktivitas fisik harian yang seharusnya didapat secara alami dari berjalan kaki.
Ada juga dampak sosial yang kurang terlihat: jalanan yang ramai oleh pejalan kaki secara alami lebih aman dan lebih hidup — fenomena yang oleh perencana kota lama disebut "eyes on the street", semakin banyak orang berjalan dan beraktivitas di ruang publik, semakin kecil ruang bagi kejahatan untuk terjadi tanpa terlihat. Kota yang mengosongkan trotoarnya, secara tidak langsung, juga mengosongkan salah satu mekanisme keamanan paling alami yang dimilikinya.
Perubahan kecil yang berdampak besar
Membangun ulang kota agar ramah pejalan kaki tidak selalu membutuhkan anggaran besar atau pembangunan besar-besaran. Beberapa intervensi yang relatif sederhana sudah terbukti berdampak signifikan di berbagai kota:
- Menegakkan aturan agar trotoar tidak dijadikan tempat parkir atau perluasan usaha — ini murni soal penegakan, bukan pembangunan infrastruktur baru.
- Menambah penyeberangan yang aman di titik-titik yang sering dilewati pejalan kaki, bukan hanya di persimpangan besar yang mudah terlihat.
- Menanam pohon di sepanjang trotoar — selain estetika, keteduhan membuat berjalan kaki jauh lebih nyaman, terutama di iklim tropis, dan secara terukur meningkatkan jumlah orang yang memilih berjalan kaki.
Kota yang benar-benar ramah bagi warganya bukan yang punya jalan tol paling lebar, tapi yang membiarkan warganya bergerak dengan bebas dan aman, dengan cara apa pun yang mereka pilih — termasuk, dan mungkin terutama, dengan berjalan kaki.
Tanggapan (0)
Lebih banyak dari Arutala
Notifikasi yang Merampas Perhatian: Desain yang Sengaja Membuat Kita Kecanduan
Setiap kali ponsel bergetar, ada dorongan yang hampir mustahil ditahan untuk memeriksanya — bahkan saat kita sedang di tengah percakapan penting, bahkan saat kita tahu itu kemungkinan besar hanya…