Tersesat dengan Sengaja: Apa yang Saya Pelajari dari Berjalan Tanpa Peta di Kota Asing
Ada kebiasaan yang saya bangun secara tidak sengaja beberapa tahun lalu, dan sejak itu menjadi bagian tetap dari cara saya bepergian: di hari kedua atau ketiga di kota baru, setelah cukup mengenal…
27 Jul 2026 · 3 mnt baca
Foto oleh Zoltan Tasi di Unsplash
Ada kebiasaan yang saya bangun secara tidak sengaja beberapa tahun lalu, dan sejak itu menjadi bagian tetap dari cara saya bepergian: di hari kedua atau ketiga di kota baru, setelah cukup mengenal arah umum, saya sengaja mematikan navigasi dan berjalan tanpa tujuan pasti selama beberapa jam.
Awalnya ini murni kecelakaan — ponsel kehabisan baterai di sebuah kota di Eropa selatan, dan saya terpaksa mencari jalan pulang ke penginapan dengan mengandalkan ingatan dan tanya-tanya sederhana. Yang saya duga akan jadi pengalaman menyebalkan justru menjadi salah satu bagian paling berkesan dari perjalanan itu — dan sejak itu saya sengaja mengulanginya, di kota mana pun saya berkunjung.
Perbedaan antara melihat dan benar-benar memperhatikan
Ketika kita mengikuti rute yang sudah ditentukan — entah dari aplikasi peta atau dari daftar tempat wisata yang sudah disusun sebelumnya — perhatian kita sebagian besar terarah pada tujuan berikutnya. Kita melihat kota, tapi dengan cara yang agak transaksional: jalan ini untuk sampai ke sana, belokan ini untuk menuju ke sini.
Saat tidak ada tujuan yang harus dicapai, perhatian berubah bentuk. Kita mulai memperhatikan hal-hal yang biasanya lewat begitu saja — cara cahaya sore jatuh di dinding bata tua, obrolan di sebuah kedai kecil yang tidak ada di daftar rekomendasi mana pun, gang sempit yang tidak akan pernah muncul di hasil pencarian "tempat wajib dikunjungi."
Kota yang direncanakan untuk dilihat turis dan kota yang sesungguhnya hidup di dalamnya sering kali dua kota yang berbeda, dan yang kedua hanya terlihat kalau kita berhenti mengikuti peta.
Ketidaknyamanan yang ternyata produktif
Tersesat, dalam bentuknya yang paling harfiah, memang tidak nyaman. Ada kecemasan kecil yang muncul — apakah saya akan menemukan jalan kembali, apakah saya membuang waktu, apakah ini keputusan yang bodoh. Tapi ketidaknyamanan ini, kalau dibiarkan berjalan sebentar tanpa buru-buru diselesaikan dengan membuka aplikasi peta lagi, sering berubah menjadi sesuatu yang lain: rasa penasaran yang lebih murni tentang di mana sebenarnya saya berada.
Ini mengingatkan saya pada perbedaan antara wisatawan dan pelancong yang sering dibahas dalam tulisan-tulisan perjalanan lama — wisatawan tahu ke mana mereka akan pergi sebelum berangkat; pelancong membiarkan tempat itu sendiri yang menentukan arah. Keduanya bukan cara yang salah untuk bepergian, tapi keduanya memberi pengalaman yang sangat berbeda, dan kebanyakan dari kita, karena kemudahan teknologi, sudah hampir sepenuhnya bergeser ke cara yang pertama.
Bukan anti-teknologi, hanya soal kapan menggunakannya
Ini bukan argumen untuk membuang peta selamanya — ada banyak situasi di mana navigasi yang jelas justru penting, terutama saat waktu terbatas atau keselamatan jadi pertimbangan. Tapi ada nilai nyata dalam sengaja menyisihkan waktu tanpa itu, terutama di kota yang relatif aman untuk dijelajahi dengan berjalan kaki.
Beberapa hal yang membuat pengalaman ini lebih bermakna, bukan sekadar membingungkan:
- Pilih kawasan yang relatif kompak dan aman, bukan area yang luas dan berisiko — tersesat yang produktif berbeda dari tersesat yang benar-benar berbahaya.
- Bawa cukup uang tunai dan alamat penginapan tertulis, sebagai jaring pengaman kalau memang perlu bantuan orang lain untuk menemukan jalan kembali.
- Biarkan rasa penasaran, bukan kepanikan, yang memandu keputusan — kalau mulai belok ke jalan yang lebih sepi, tanyakan pada diri sendiri apakah ini karena penasaran atau karena panik ingin cepat sampai ke tempat yang dikenal.
Kota yang paling saya ingat, dari semua perjalanan yang pernah saya lakukan, hampir selalu bukan yang paling terkenal tempat wisatanya — tapi yang paling lama saya jelajahi tanpa tahu persis ke mana saya akan berakhir.
Tanggapan (0)
Lebih banyak dari Arutala
Notifikasi yang Merampas Perhatian: Desain yang Sengaja Membuat Kita Kecanduan
Setiap kali ponsel bergetar, ada dorongan yang hampir mustahil ditahan untuk memeriksanya — bahkan saat kita sedang di tengah percakapan penting, bahkan saat kita tahu itu kemungkinan besar hanya…