Menulis Pelan di Kota yang Bergegas
Tentang bagaimana kebiasaan lama membentuk cara kita berpikir, dan mengapa melambat justru membuat tulisan lebih jujur.
18 Jul 2026 · 6 mnt baca
Kota ini tidak pernah benar-benar berhenti. Kendaraan mengalir tanpa jeda, notifikasi berdenting setiap beberapa menit, dan kita diajak untuk terus bergerak lebih cepat dari kemarin. Di tengah ritme seperti itu, menulis pelan terasa hampir seperti sebuah pembangkangan kecil.
Padahal, justru di situlah letak kekuatannya. Ketika kita memaksa diri untuk berhenti sejenak — memperhatikan cahaya yang jatuh di meja, suara hujan di atap seng, atau percakapan lirih di kedai kopi — kita mulai menemukan bahan yang tidak bisa diberikan oleh kecepatan.
Jeda sebagai bagian dari proses
Banyak penulis muda mengira jeda adalah musuh produktivitas. Kenyataannya, jeda adalah bagian dari proses itu sendiri. Ide yang dipaksa keluar biasanya datar; ide yang dibiarkan mengendap sering kali muncul dengan bentuk yang lebih jernih.
Menulis pelan bukan berarti menulis sedikit. Ia berarti menulis dengan sadar.
— Catatan penulis
Maka mungkin yang kita butuhkan bukan kota yang lebih tenang, melainkan cara menulis yang lebih tenang. Kota akan terus bergegas. Tugas kita adalah menemukan ruang pelan di dalamnya, lalu menuliskannya.
Menulis tentang kota, kebiasaan, dan hal-hal yang bergerak pelan. Penulis utama di Jurnal Kota.
Tanggapan (3)
- Dian Prasetya18 Jul 2026
Bagian tentang jeda sebagai proses sangat mengena. Selama ini saya merasa bersalah setiap kali berhenti menulis.
- Ayu PrawiraPenulis18 Jul 2026
Terima kasih, Dian. Rasa bersalah itu memang jebakan yang umum.
- Bima Santosa18 Jul 2026
Setuju. Tulisan terbaik saya justru lahir setelah jalan sore tanpa tujuan.
Lebih banyak dari Arta
Kembali Menulis Tangan di Zaman Layar Sentuh
Ada yang berubah ketika pena menyentuh kertas: pikiran ikut melambat dan kata-kata menjadi lebih berhati-hati.
Membangun Kebiasaan Riset yang Sehat
Riset yang baik bukan soal mengumpulkan sebanyak-banyaknya, melainkan bertanya dengan lebih jernih.
Warisan Pantun dalam Percakapan Modern
Pantun tidak hilang; ia hanya berpindah panggung — dari beranda rumah ke kolom komentar.